Belanja Lebih Asyik, ya di JATOS....
  • HOME
  • SEKILAS
  • DIREKTORI MALL
  • KONTAK KAMI
Humor sebagai Seni
Eksistensi Humor sebagai Seni Kelas Rakyat
Jatos Mall | Kamis, 20 Oktober 2016 - 14:31:53 WIB | dibaca: 2176 pembaca

Warkop

Di masa lalu seni humor hanya dianggap sebagai kesenian kelas jongos. Kelas rakyat jelata. Dalam cibiran dan kerlingan sebelah mata “kaum terpelajar” pada masanya itulah eksistensi seni humor atau lawak dianggap dan dinilai.

Tidak mudah mengatakan bahwa kaum pekerja humor itu adalah suatu kelas tersendiri di dalam masyarakat sebagaimana buruh, dan kaum kapitalis. Namun, kalau sekiranya kita memerhatikan posisinya yang unik dalam hubungan dengan kapital, mereka dibayar untuk membanyol, menjadi bagian tak terpisahkan dalam kapital pertelevisian, seperti dalam kasus kelompok pembanyol. Misalnya kelompok Srimulat, Warung Kopi, Warkop Prambors, Dono-Kasino-Indro.

Daniel Dhakidae, penulis dan Pemimpin Redaksi Jurnal Ilmiah Prisma, mengungkapkan, hampir tidak mungkin membayangkan mereka bukan sebagai suatu kelas tertentu yang dibentuk dalam hubungannnya dengan modal, pengetahuan, dan kekuasaan.

“Stand up comedy menjadi acara penting televisi sekarang. Apakah yang menjadi modal mereka? Pertama, pengetahuan dan kekuatan yang dibentuk secara historis, historically shaped forces, dan justru karena itu dalam dirinya mengandung batas-batas dan patologi, limits and, indeed, pathologies; karena pengetahuan itu terikat pada kekuatan sejarah maka social outcomes dari pengetahuan itu muncul dalam bentuk yang berbeda,” ujarnya di acara Simposium Humor Nasional di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kelompok Warkop Prambors yang dibentuk 1980-an, ketika Orba menjalankan kediktatoran dalam arti sesungguhnya, beberapa judul filmnya hanya bisa dipahami dengan reading between the lines: “Mana Tahan”, “Pintar-pintar Bodoh”, “Setan Kredit” dan lainnya.

Kedua, apapun jenis pengetahuan dan sistem pengetahuan itu adalah demi kepentingan rekonstruksi sosial menuju suatu human social reconstruction.

Cendekiawan, termasuk kaum pelawak, sebagai kelas baru, juga bisa dilihat sebagai momen baru dalam suatu rentetan panjang sirkulasi elite historis. Kelas baru cendekiawan tersebut bisa juga muncul sebagai aliansi kelas lama, seperti para punakawan istana dalam tradisi Jawa.

“Mereka terdiri dari kaum “profesional” penuh dedikasi yang akan mengangkat kelas berharta lama, old moneyed class, menjadi elite yang berorientasi kolektif. Kelas baru kaum cendekiawan tersebut bisa juga terdiri dari mereka yang menjadi budak kekuasaan,” imbuhnya.

Kelas baru ini berada di bawah kelas berharta yang masih ingin mempertahankan hartanya dan hanya memakai kaum cendekiawan untuk mempertahankan dominasinya di dalam masyarakat.
“Kaum pelawak, penulis lelucon, berada di dalam dunia semacam ini: serius dan main-main.

 

Tanpa bermain-main mereka tidak bisa bersungguh-sungguh. mereka hanya bisa bersungguh-sungguh ketika mereka bermain-main,” kata Daniel.

Mereka berada di tengah modal, money capital, social capital dan knowledge. Dalam posisinya mereka menggabungkan beberapa perkara berbeda yaitu pengetahuan, modal dan kekuasaan.

Hampir semua pekerja humor adalah mereka yang berkecimpung dengan pengetahuan dalam arti seluas-luasnya, dalam science dan humanities, sejarah, musik, olah raga dan lainnya.

“Di tengah dunia antara itulah kamu pekerja humor, dengan kata-kata, gerak, lukisan, drama, dan lain-lain menjadi intelektual/cendekiawan yang mempermainkan fakta untuk mencari makna di baliknya. Mereka membawa hidup ke titik ekstrem untuk menemukan sesuatu yang tidak terduga. Ini suatu kerja kaum cendekiawan sesungguhnya,” tuturnya. san/R-1

Sangat Riskan dan Problematis

Pada kesempatan berbeda, HB Jassin, kritikus sastra Indonesia melabeli Chairil Anwar sebagai pelopor angkatan 45. Menurut Goenawan Mohammad, kata-kata ini sangat riskan dan problematis, karena apa yang disebut angkatan di dalam kesusasteraan, tentu berbeda dengan angkatan 45 di dalam politik.

Ia tidak membayangkan bahwa Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani duduk di dewan pengurus angkatan 45 dan memakai lencana. Apa yang disebut angkatan? Apakah ini suatu gerakan dengan pemikiran yang sama atau ini suatu kategori kronologis sebuah generasi.

“Angkatan 45 biasanya dikaitkan dengan revolusi dan perjuangan politik, kalau dikatakan bahwa Chairil Anwar adalah penyair angkatan 45 maka diharapkan dia akan menulis puisi yang memekikan perjuangan politik, namun Chairil tidak,” ucapnya.

Chairil pernah mengeluarkan pernyataan bahwa “Angkatan ’45 harus berdiri sendiri, menjalankan dengan tabah dan berani ‘nasibnya sendiri’, menjadi pernyataan revolusi”.

“Apa sebenarnya yang dimaksud ‘berdiri sendiri’ tidak jelas, saya juga tidak begitu pasti makna kata ‘nasibnya sendiri’ menjadi pernyataan revolusi, bahkan tidak jelas apa pengertian Chairil tentang revolusi,” ulasnya.

Kalimat ini hanya menarik karena bunyinya semua berakhir dengan “i”, yang berkesan dari statement Chairil hanyalah kehendak atau keharusan melepaskan diri dari ketergantungan kepada sesuatu yang berada di luar, suatu hal yang agaknya lazim dikatakan dalam semangat kemerdekaan, tapi di akhir 1940an, di dunia sastra kata kemerdekaan punya makna yang special, terutama bagi Chairil Anwar.

Dalam sebuah pidato radio di akhir tahun 1945, ia memberi catatan atas jatuhnya kekuasaan fasisme Jepang, dengan itu kemerdekaan terbit, tapi dalam arti kemerdekaan yang dia sebut sebagai kemerdekaan kata, kemerdekaan bicara dan berekspresi dalam bahasa.

“Waktu itu kebebasan ekspresi memang dikompromikan, tapi banyak seniman juga yang memanfaatkan kesempatan itu untuk mengembangkan aktualitas dirinya dan untuk persiapan Indonesia merdeka, tapi Chairil tidak,” ungkapnya.

Dalam pidato itu ia mengecam kebijakan kebudayaan rezim pendudukan Jepang sebagai kebudayaan paksaan. Diawasi sensor dan doktrin, sastra dan seni harus mengikuti arahan, tidak dapat tidak kebudayaan itu memang bukan kebudayaan yang merdeka.

“Bagi Chairil mereka telah durhaka kepada kata, dalam penuturan Chairil kata adalah yang menjalar, mengurai, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, mimpi, pengharapan, cinta dan dendam. Dengan kata lain kata analog dengan kehidupan, sebagaimana kehidupan, ia tidak dapat ditetapkan dalam satu kategori, tidak bisa sepenuhnya terperangkap dalam satu wilayah, satu kotak, satu pigura,” tuturnya.

Dalam hal ini, Chairil adalah contoh gamblang, bahasanya disertai sikapnya berbahasa, mendobrak wilayah yang dijaga tatanan, ia adalah bagian dari revolusi.

Chairil bersuara sebagai sastra minor, ciri dari sastra minor adalah deteritorialisasi, lepasnya ia dari wilayah yang sudah dipastikan oleh yang berkuasa. Deteritorialisasi dalam arti yang lebih luas juga merupakan pembebasan dari batasan yang dibukukan rezim manapun terutama rezim pendudukan Jepang.



Baca Juga

  • Cara Membuat Slime dengan Mudah

Recent Posts

Hari Pahlawan 10 November

dibaca : 67578 pembaca


HUT REPUBLIK INDONESIA 73 TAHUN

dibaca : 15035 pembaca


10 Cara Menjaga Kesehatan Lambung & Usus Paling Efektif

dibaca : 9956 pembaca


Cara Membuat Slime dengan Mudah

dibaca : 5880 pembaca


Mengisi Libur Tahun Baru

dibaca : 4507 pembaca


Tweets by @jatosmall_info

Tenant Kami

Copyright © 2026. Jatinangor Town Square. Developed by: Department IT